Harga Minyak Melesat Usai Serangan Houthi ke Bandara Riyadh, Penerbangan Indonesia Terdampak?

Jawaban singkat: Harga minyak dunia melesat pada Senin (12/10/2026) setelah serangan rudal Houthi ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Minyak Brent naik 1,8 persen ke US$106,65 per barel dan WTI naik 2 persen ke US$93,74 per barel. Bandara Riyadh ditutup hingga pemeriksaan keamanan selesai, sementara penerbangan langsung Indonesia–Arab Saudi diklaim masih berjalan normal.
Harga minyak dunia kembali melonjak tajam. Pemicunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026) — serangan yang menewaskan belasan orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 1,8 persen menjadi US$106,65 per barel pada Senin (12/10/2026) — level tertinggi sejak 15 September 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sekitar 2 persen ke US$93,74 per barel.
Harga Minyak Melesat: Kronologi Serangan Houthi ke Bandara Riyadh
Berikut rangkaian peristiwa yang mendorong harga minyak melesat pekan ini:
- Sabtu, 10 Oktober 2026: Houthi mengklaim serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Otoritas Saudi mencatat 12–13 orang tewas dan lebih dari 300 luka-luka. Korban berasal dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Yordania, Pakistan, Suriah, Palestina, Sudan, dan seorang warga AS.
- Minggu, 11 Oktober 2026: Serangan susulan kembali menghantam bandara — seorang warga Pakistan tewas dan 11 orang luka-luka.
- Senin, 12 Oktober 2026: Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mencegat rudal balistik Houthi yang kembali ditembakkan ke Riyadh. Otoritas penerbangan Saudi (GACA) memperpanjang penutupan bandara untuk pemeriksaan keamanan — diperkirakan berlangsung setidaknya hingga Kamis (15/10).
- Selasa, 13 Oktober 2026: Kedutaan Besar AS di Arab Saudi memberlakukan izin khusus bagi pegawai pemerintah AS yang menggunakan transportasi udara di seluruh bandara Saudi.
Analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menyebut serangan ini menghancurkan “rasa normalitas” ekspor dari Selat Hormuz yang baru pulih pekan lalu. Sepanjang Oktober, kapal-kapal tanker juga dilaporkan diserang di sekitar Selat Hormuz dan lepas pantai Oman — mengancam pemulihan ekspor minyak mentah Timur Tengah.
Dampak ke Indonesia: Penerbangan Langsung Masih Jalan, Transit Terganggu
Bagi Indonesia, kabar baiknya: penerbangan langsung Indonesia–Arab Saudi masih beroperasi normal. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, memastikan penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air menuju Jeddah serta penerbangan Saudia tetap berjalan.
“Kami terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap penerbangan yang terhubung dengan Riyadh,” kata Lukman dalam keterangan resmi, Selasa (13/10/2026).
Bandara Soekarno-Hatta juga memastikan penerbangan langsung Jakarta–Jeddah dan Jakarta–Madinah — dua rute utama jemaah umrah — berjalan normal dan lancar. Namun penumpang dengan rute transit perlu waspada:
- Qatar Airways membatalkan sejumlah penerbangan rute Doha–Riyadh pulang-pergi pada 9–10 Oktober 2026, dengan pengalihan penumpang melalui kota alternatif di Arab Saudi.
- Emirates membatalkan sejumlah penerbangan menuju dan dari Riyadh, Jeddah, Madinah, serta Dammam pada periode tertentu.
- Sejumlah maskapai lain menerapkan penyesuaian koneksi, pengalihan rute, atau penghentian sementara layanan menuju Riyadh.
Kemenhub memastikan akan terus berkoordinasi dengan maskapai untuk penanganan penumpang terdampak. KBRI Riyadh menyatakan belum ada WNI yang menjadi korban, namun mengimbau seluruh warga Indonesia di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan dan menghindari area bandara.
Harga Minyak Melesat: Bagaimana Dampaknya ke BBM dan Ekonomi Indonesia?
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menular ke ekonomi domestik melalui beberapa jalur:
1. Tekanan pada harga BBM. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM. Jika harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama, beban subsidi dan kompensasi energi APBN akan membengkak — membuka ruang penyesuaian harga BBM non-subsidi.
2. Inflasi. Kenaikan harga energi mendorong biaya logistik dan produksi. Menariknya, lonjakan harga minyak WTI sebesar 2 persen ini juga menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas Antam hari ini — ekspektasi inflasi yang naik membuat pasar memperkirakan bank sentral akan memperketat kebijakan moneter.
3. Nilai tukar rupiah. Sebagai negara pengimpor minyak neto, kenaikan harga minyak memperlebar defisit transaksi berjalan dan berpotensi menekan rupiah — yang pada gilirannya menambah tekanan inflasi impor.
Di sisi lain, ada faktor penyeimbang: Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina menyepakati “gencatan senjata energi”, dan Moskow disebut akan memasok lebih dari 4 juta ton solar ke pasar global. Jika terealisasi, tambahan pasokan ini dapat meredam lonjakan harga.
Pertanyaan Umum Seputar Kenaikan Harga Minyak Dunia
Mengapa harga minyak dunia naik tajam?
Harga minyak melesat setelah serangan rudal Houthi ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10–11 Oktober 2026. Serangan ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi — salah satu produsen minyak terbesar dunia — di tengah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Berapa harga minyak Brent dan WTI saat ini?
Per Senin (12/10/2026), minyak Brent ditutup di US$106,65 per barel (naik 1,8 persen) dan WTI di US$93,74 per barel (naik 2 persen).
Apakah penerbangan Indonesia ke Arab Saudi terdampak?
Penerbangan langsung Indonesia–Jeddah/Madinah (Garuda Indonesia, Lion Air, Saudia) masih berjalan normal. Yang terdampak adalah penerbangan transit melalui Doha dan Dubai — Qatar Airways dan Emirates membatalkan sejumlah rute ke Riyadh dan kota-kota Saudi lainnya.
Apakah ada WNI yang menjadi korban serangan di Riyadh?
Kementerian Luar Negeri RI memastikan tidak ada WNI dalam daftar korban meninggal. KBRI Riyadh masih menelusuri kemungkinan WNI yang terdampak di rumah sakit dan mengimbau seluruh WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan.



